Wednesday, June 6, 2012

Kisah Nabi Musa


Kisah Nabi Musa As dan Nabi Khidir


Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam 
Shahih keduanya, dari Said bin Jubair. Ia bercerita, “Aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas bahwa Nauf Al-Bikali mengatakan bahwa Musa, sahabat Khidhir tersebut, bukanlah Musa dan sahabat Bani Israil. Maka Ibnu Abbas pun berkata, “Musuh Allah itu telah berdusta.” Ubay bin Kaab pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Musa pernah berdiri memberikan ceramah kepada Bani Israil, lalu ia ditanya, ‘Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?’ Ia menjawab, ‘Aku.’ Maka Allah mencelanya, karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, ‘Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang berada di tempat pertemuan dua laut, yang ia lebih berilmu daripada dirimu.’ Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana bisa aku menemuinya?’ Dia berfirman, ‘Pergilah dengan membawa seekor ikan, dan letakkanlah ia di dalam keranjang. Di mana ikan itu hilang, maka di situlah Khidhir itu berada.’

Maka Musa mengambil seekor ikan dan meletakkannya di dalam keranjang. Lalu dia pergi bersama seorang pemuda bernama Yusya’ bin Nun. Ketika keduanya mendatangi batu karang, keduanya merebahkan kepala mereka dan tertidur. Ikan itu menggelepar di dalam keranjang, hingga keluar darinya dan jatuh ke laut. “Kemudian ika itu mengambil jalannya ke laut.” (Al-Kahfi: 61). Allah Subhanahu wa Ta’ala menahan jalannya air dari ikan itu, maka jadilah air itu seperti lingkaran. Kemudian sahabat Musa (Yusya’) terbangun dan lupa memberitahukan kepada Musa tentang ikan itu. Mereka terus menempuh perjalanan siang dan malam. Pada keesokan harinya Musa berkata kepada pemuda itu, “Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”‘ (Al-Kahfi: 62)Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyebutkan bahwa Musa tidak merasa kelelahan sehingga ia berhasil mencapai tempat yang ditunjukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sahabatnya itu berkata, “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (Al-Kahfi: 63). Beliau berkata, “Ikan itu memperoleh jalan keluar, tetapi bagi Musa dan sahabatnya, yang demikian itu merupakan kejadian yang luar biasa.” Maka Musa berkata kepadanya, “Itulah (tempat) yang kita cari.’ lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (Al-Kahfi: 64).
Lebih lanjut, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menceritakan, “Kemudian mereka berdua kembali lagi mengikuti jejak mereka semula hingga akhirnya sampai ke batu karang. Tiba-tiba ia mendapati seseorang yang mengenakan pakaian rapi. Musa mengucapkan salam kepadanya. Khidhir pun berkata, ‘Sesungguhnya aku mendapatkan kedamaian di negerimu ini.’ ‘Aku Musa,’ paparnya. Khidhir bertanya, ‘Musa pemimpin Bani Israil?’ Musa menjawab, ‘Ya.’ Aku datang kepadamu supaya engkau mengajarkan kepadaku apa yang engkau ketahui. Khidhir menjawab, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.’(Al-Kahfi: 67)Hai Musa aku mempunyai ilmu yang diberikan dari ilmu Allah. Dia mengajariku hal-hal yang tidak engkau ketahui. Dan engkau pun mempunyai ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang tidak kumiliki. “Maka Musa berkata, ‘ Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.’” (Al-Kahfi: 69). Maka Khidhir berkata Musa, “Janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”. (Al-Kahfi: 70).
Maka berjalanlah keduanya. Mereka berjalan menelusuri pantai, hingga akhirnya sebuah perahu melintasi keduanya. Lalu keduanya meminta agar pemiliknya mau mengantarnya. Mereka mengetahui bahwa orang itu adalah Khidhir. Mereka pun membawa keduanya tanpa upah. Ketika keduanya menaiki perahu itu, Musa merasa terkejut karena Khidhir melubangi perahu tersebut dengan kapak. Musa pun berkata, “Orang-orang itu telah membawa kita tanpa upah, tetapi engkau malah melubangi perahu mereka, “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (Al-Kahfi: 71).
“Dia (Khidhr) berkata, ‘Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’” (Al-Kahfi: 72).
“Musa berkata, ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’” (Al-Kahfi: 73).
Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Yang pertama itu dilakukan Musa karena lupa. Lalu ada burung hinggap di tepi perahu dan minum sekali atau dua kali patokan ke laut. Maka Khidhir berkata kepada Musa, ‘Jika ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah, maka ilmu kita itu tidak lain hanyalah seperti air yang diambil oleh burung itu dengan paruhnya dari laut.’
Setelah itu keduanya keluar dari perahu. Ketika keduanya sedang berjalan di tepi laut, Khidhir melihat seorang anak yang tengah bermain dengan anak-anak lainnya. Maka Khidhir menjambak rambut anak itu dengan tangannya dan membunuhnya. Musa berkata kepada Khidhir, ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Khidhr berkata, ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?’ (Al-Kahfi: 74-75).Yang kedua ini lebih parah dari yang pertama.
Musa berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.‘ (Al-Kahfi: 76).
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata, ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.‘ (Al-Kahfi: 77).-yakni, miring. Lalu Khidhir berkata dan, ‘Khidhir menegakkan dinding itu,’ dengan tangannya. Selanjutnya Musa berkata, ‘Kita telah mendatangi suatu kaum tetapi mereka tidak mau menjamu kita dan tidak pula menyambut kita, ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ (Al-Kahfi: 77). Khidhr berkata, ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.’” (Al-Kahfi: 78).
Kemudian Rasulullah bersabda, “Kami ingin Musa bisa bersabar sehingga Allah menceritakan kepada kita tentang keduanya.”
Said bin Jubair menceritakan, Ibnu Abbas membaca, “Dan di hadapan mereka terdapat seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera yang baik dengan cara yang tidak benar.” (Al-Kahfi: 79). Ia juga membaca seperti ini,“Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah mukmin.” (Al-Kahfi: 80).

Kisah Dua Orang Sahabat & Sepohon Kurma


KISAH DUA ORANG SAHABAT & SEPOHON KURMA




Ya Allah Ya Ilahi

Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,

berfikir sebelum bertindak,

santun dalam berbicara,

tenang ketika gundah,

diam ketika emosi melanda,

bersabar dalam setiap ujian.



Jadikanlah kami orang yang selembut Abu Bakar As-Siddiq,

sebijaksana Umar bin Khattab,

sedermawan Uthman bin Affan,

sepintar Ali bin Abi Thalib,

sesederhana Bilal & setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhum

Amiin ya Rabbal'alamin

"A good Muslim is one who doesn't let his errors DEFINE who he is,
but use them to REDEFINE who he is" 

Sifat atau watak seorang kawan terhadap kawannya
Pernah suatu hari, telah dikhabarkan kisah dua orang sahabat yang sangat indah.
Semenjak keduanya bersahabat, mereka tidak pernah bergaduh, masing-masing amat menjaga hati masing-masing. Indahnya lukisan kehidupan mereka, jika hendak dikhabarkan 1001 kisah cinta, langsung tak tertanding dengan kisah persahabatan mereka.

Allah menaungi ukhwah kedua-dua sahabat ini, langsung tak terusik oleh syaitan & iblis. Mereka berkongsi kisah suka & duka, tawa & tangis bersama, susah & senang, sakit & sihat bersama & segala sesuatu mereka sandarkan kepada Allah SWT. Hinggalah pada suatu hari, di tepian pantai, sedang keduanya asyik bercerita kisah hidup masing-masing, maka sahabat pertama bertanya kepada sahabat kedua;

“Semoga Allah memberkatimu wahai sahabatku sehati sejiwa. Persaudaraan kita bukan suatu kebanggaan, bukanlah suatu keseronokan. Orang ramai mendoakan kita. Tumbuh-tumbuhan & segala jenis makhluk tunduk sujud kepada kita. Sehingga ke hari ini, apakah kamu masih mengaku aku sebagai sahabat seperjuanganmu?”

Sahabat kedua menjawab, “Semoga Allah memberkati mu jua. Tanpa Allah siapalah aku, aku bersyukur dengan nikmat pemberian Allah yang tak ternilai di hadapan mataku ini. Dia utuskan kamu untuk menyinari hidupku, memadam kesan-kesan hitam dalam hidupku, menyiram aku dengan curahan air cinta kepada Yang Satu. Masakan tidak aku mengaku kau sebagai sahabat seperjuanganku. Inilah tekadku, aku amat bersyukur ke hadrat Allah kerana dikurniakan sahabat sepertimu..”

“Sesungguhnya iblis & syaitan amat benci pada kita. Mereka benci kerana kita berkasih sayang kerana Allah. Sampai sekarang, mereka masih gagal. Namun mereka tak pernah berputus asa. Jarum kedengkian, hasad, fitnah, tuduh-menuduh, riya’ & takbur serta ‘ujub akan mereka cucuk supaya dapat memisahkan persaudaraan kita.
Apakah kau tidak takut wahai sahabatku?” Tanya sahabat pertama.

Dengan tenang, sahabat kedua menjawab, “InsyaAllah, aku yakin dengan peliharaan Allah SWT kepada kita hingga ke hari akhirat nanti. Semoga ditetapkan hati kita tidak lain hanya kerana Allah SWT, serta dijauhi dari sifat-sifat tersebut. Na’uzubillah…”
Maka kedua-dua sahabat itu pun berdoa bersama-sama. Memanjatkan kesyukuran ke hadrat Allah SWT. Segala penduduk langit & bumi mendoakan kebahagiaan mereka berdua.

Ditakdirkan pada suatu hari, sedang kedua-dua sahabat itu bersiar-siar di sebuah taman, sambil bertasbih memuji Allah SWT, mengagungkan kebesaran Allah SWT, tiba-tiba mereka terlihat sebuah pohon kurma yang lebat buahnya. Telah diketahui bahawa taman itu adalah taman yang tidak bertuan milik & pengunjung bebas memetik buah-buahan di situ.
Maka sahabat kedua memohon izin kepada sahabat pertama untuk pergi memetik buah kurma tersebut. Maka dipetiknya beberapa biji sahaja, sekadar mengisi perut yang lapar.

Maka keduanya menikmati buah kurma tersebut dengan penuh kesyukuran. Tiba-tiba sahabat pertama bersuara, “Maafkan aku sahabatku. Baru sahaja aku teringat bahawasanya pohon ini bertuan milik. Kita telah makan buah kurma milik orang lain. Adalah suatu dosa bagi kita memakan sesuatu yang bukan halal bagi kita tanpa kita meminta izin terlebih dahulu. Salah aku kerana terlambat memberitahumu.”

“Benarkah? Jikalau begitu, kita telah dikira mencuri.
Astaghfirullahal'azim, aku merasa bersalah kerana memetik buah itu.
Apa harus kita buat? Patutkah kita memberitahu tuan punya milik pohon tersebut akan kesalahan kita?” Sahabat kedua bertanya.

“Tidak, aku tak mampu memikirkan jalan penyelesaian buat masa sekarang.
Hakikatnya memang salah aku. Aku merasa berdosa yang teramat sangat.” Keluh sahabat pertama.

“Jangan risau sahabatku fillah. Allah bersama orang-orang yang benar. Kita harus berlaku jujur. Mari kita berjumpa dengan tuan pemilik pohon ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kita. Moga tuan milik pohon ini menghalalkan kita kerana memakan buahnya. Aku rela bekerja seumur hidup jika disuruhnya begitu, demi menghalalkan apa yang telahku makan ini.
Aku lebih takutkan seksaan Allah SWT.” Sahabat kedua memujuk sahabat pertama.

Namun, sahabat pertama enggan menurut sahabat kedua.
Dia berasa amat bersalah kerana gagal memberitahu perkara sebenar tentang pohon tersebut.

“Bagaimana jika tuan pemilik pohon ini enggan menghalalkan buah yang telah kita makan ini?”
Tanya sahabat pertama.

Sahabat kedua termenung seketika. Dia mulai ragu-ragu.

“Aku mencadangkan kita tak perlu berjumpa dengan tuan pemilik pohon ini. Aku khuatir dia enggan memaafkan kita. Maka seluruh darah & daging kita tidak halal di sisi Allah.”
Sahabat pertama memberi cadangan.

“Kalau begitu, sama sahajalah pengakhirannya. Lebih dahsyat lagi Allah murka atas perbuatan kita.
Dia melihat perbuatan kita, Dia tahu yang kita telah melakukan maksiat dan cuba menyembunyikannya.
Aku amat takut. Seeloknya aku mencadangkan kita berjumpa tuan pemilik pohon ini. InsyaAllah dengan rahmat Allah, tuan pemilik pohon ini memaafkan & menghalalkan apa yang telah kita makan.
Aku tak mahu tergolong dalam kalangan orang yang dilaknat oleh Allah SWT di akhirat kelak nanti.” Sahabat kedua meyakinkan sahabat pertama.

“Kalau begitu, engkau pergi seoranglah. Aku tidak mahu. Sebagai sahabatku, harap kau jangan laporkan kepadanya yang aku turut sama makan buah kurma itu ya.
InsyaAllah suatu hari nanti aku akan cuba bertaubat kepada Allah SWT atas kesalahanku ini.
Mudah-mudahan Dia mengampuni aku. Aku belum cukup kuat berjumpa dengannya,”
kata sahabat pertama.

Sahabat kedua amat terkejut dengan pendirian sahabat pertama. Lalu dia berkata,
“Astaghfirullah, bukan dengan cara begini, Allah akan ampunkan dosa kita wahai sahabatku.
Kelak akan dipersaksikan di akhirat kelak akan perbuatan terkutuk kita!”

“Ya aku faham. Tapi aku merasakan inilah jalan penyelesaian terbaik. Kita bertaubat sahaja.
Allah akan mengampuni dosa kita. Pintu taubatnya sentiasa terbuka bagi hambaNya yang bertaubat kepadaNya.” Sahabat pertama masih enggan.

“Wahai sahabatku, janganlah kita dihina di hadapan Allah kelak atas perbuatan kita ini. Aku sebagai sahabatmu tidak sanggup melihat sahabatku ini menjadi penghuni neraka hanya kerana hal yang kecil sebegini. Islam mengajar kita supaya berlaku jujur!” tegas sahabat kedua.

“Ah, pedulikan! Aku tidak mahu berjumpa dengan tuan pemilik pohon ini. Lagipun sama sahaja kalau dia enggan menghalalkan apa yang telah kita lakukan ini.
Kau mahu pergi, kau pergilah, aku tetap dengan pendirianku! Biarkan aku! Kalau kau rasakan aku tidak layak menjadi sahabatmu kerana ‘dosa’ku pada pandanganmu, maka biarkan aku!”
Pengakuan sahabat pertama ini membuatkan sahabat kedua terkejut.
Dia tidak menyangka bahawa kata-kata tersebut akan keluar dari mulutsahabatnya itu.

Tiba-tiba sahabat kedua menangis. Maka dengan perlahan dia berkata kepada sahabat pertama,
“Sungguh aku tak sangka dengan pendirianmu ini. Kau telah berubah, astaghfirullah, syaitan benar-benar telah mempengaruhimu. Aku masih ingat kau pernah bertanya kepadaku suatu ketika dahulu, apakah aku tidak takut akan jarum-jarum syaitan yang akan memisahkan persaudaraan kita?
Aku meyakinkanmu dengan jawapanku. Aku yakin dengan peliharaan Allah.
Tapi, memang benar apa yang dikatakanmu. Kau telah berubah.
Jarum syaitan telah menusuki tubuhmu. Aku sangat kecewa dengan perubahan dalam dirimu.”

“Kau sudah tidak memahamiku lagi. Kau benar-benar bukan sahabatku.
Maka terpulanglah, pergilah kau kepada tuan si pemilik pohon.
Aku dengan pendirianku ini. Mulai hari ini, kita bukanlah sahabat sejati,” kata sahabat pertama.

“Baiklah, pergilah engkau dengan sikap engkau itu. Aku benar-benar kecewa.
Jika benar kau membenciku, maka tinggalkanlah aku di sini.
Aku tak sanggup melihatmu dengan pendirianmu ini. Aku tak rela sahabatku berubah jadi begini.
Kau telah mendustai kata-katamu suatu ketika dahulu.
Mulai hari ini, aku terima permintaanmu, kita bukan lagi sahabat.
Pergilah engkau bertaubat, semoga Allah mengampuni engkau,”
maka sahabat kedua menangis. Lalu sahabat pertama beredar dari situ.
Kebencian merajai segenap hatinya….


Di dalam sebuah gua, terdengar tangisan teresak-esak seorang lelaki. Suara laksana orang sedang berdoa.

 “Ya Allah, memang benar apa yang aku alami. Sahabatku benar-benar membenciku kerana kejahatanku. Dia benar-benar sudah tidak mengakuiku sebagai sahabatnya.
Apabila aku berlagak seperti seorang pengkhianat & aku berlakon seperti seolah-olah aku menafikannya sebagai sahabatku, maka memang benar dia menolakku. Sudah ku duga bahawa dia mengakui aku sebagai sahabatnya hanya kerana kebaikan yang ada padaku.
Apabila aku jahat, maka aku bukan lagi sahabatnya. Dia tidak berusaha mendapatkanku. Ku harapkan dia mengejarku, namun dia menghukum aku sebagai pendusta pula.
Ya Allah, namun begitu, aku menghalalkan apa yang telah dimakannya, akulah pemilik pohon kurma itu, ampunilah dosa sahabatku ini.”
Sahabat pertama tunduk sujud dan menangis dalam gua yang gelap gelita itu.

Jangan benci orangnya,
tapi bencilah dosa yang dilakukannya.
Kelak dia mungkin bertaubat & jadi lebih baik dari kita =)


Thursday, December 22, 2011

Keistimewaan saf hadapan



Kita biasa melihat jemaah yang memenuhi saf depan ketika bersolat jemaah di masjid atau di surau, kebanyakannya terdiri daripada golongan warga emas. Kalau ada anak muda sekali pun, maka ia boleh dihitung dengan jari.
Yang muda, yang gagah bertenaga dan belia remaja santai lebih selesa bersolat di barisan saf belakang. Tahukah kita bahawa beruntungnya jika kita bersolat di saf paling hadapan kerana kita akan didoakan oleh malaikat dan mendapat ganjaran pahala besar di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW ada berpesan kepada kita semua: “Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat berselawat kepada orang yang berada di saf yang pertama.” (Hadis riwayat Ibnu Hibban). Inilah bukti anjuran Islam dalam menggalakkan umat agar berebut untuk menunaikan solat di barisan pertama.

Kemudian Rasulullah SAW juga mengatakan bahawa jika manusia mengetahui fadilat bersolat di saf hadapan, nescaya mereka berebut-rebut untuk mendapatkan tempat. Sabda Nabi SAW yang bermaksud: “Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang ada dalam azan dan saf pertama, kemudian untuk mendapatkan itu mereka harus mengundi, nescaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.” (Hadis riwayat Bukhari).
Jadi, seharusnyalah kita sebagai umat Islam bermotivasi untuk berada di saf depan ketika melaksanakan solat berjemaah. Sekarang marilah kita secara jujur meninjau keadaan di masjid dan surau ketika ini yang menunjukkan betapa ramai di kalangan kita sudah tidak menghiraukan akan pesanan Nabi kita agar mengambil peluang untuk berada di saf depan.
Dalam keadaan dewasa ini, kita terpaksa akui bahawa kebanyakan daripada kita sudah tidak mementingkan kelebihan berada di saf depan ketika menunaikan solat. Apa yang penting, asalkan solat berjemaah saja?
Marilah kita ghairah untuk merebut tempat di saf pertama setiap kali mendirikan solat berjemaah. Tanamkan azam yang mantap supaya kita tidak ketinggalan saf itu. Untuk menjayakan visi itu maka hendaklah kita segera ke masjid untuk solat berjemaah.
Marilah kita hayati peringatan Nabi SAW ini: “Sebaik-baik saf orang lelaki ialah yang pertamanya dan yang paling buruk ialah yang terakhir, dan saf wanita yang terbaik ialah yang terakhirnya dan yang paling buruk ialah yang paling hadapan.” (Hadis riwayaat Abu Daud, At-Tirmidzi).
Ini ada satu kisah bagaimana Nabi SAW mendidik sahabat dalam mengerjakan solat berjemaah. Daripada Sa’ed Al-Khudry R.A. bahawa Rasulullah SAW mendapati ada di kalangan sahabatnya melambat-lambatkan diri mereka untuk menyertai saf pertama, lantas Baginda SAW mengingatkan mereka:
“Ke hadapanlah kamu dan sempurnakanlah (saf) bersama denganku, akan datang selepas kamu satu kaum yang berterusan ke belakang (meninggalkan saf yang pertama) sehingga Allah akhirnya memasukkannya ke dalam neraka.” (hadis riwayat Muslim). Perhatikan baik-baik akan sabda Nabi SAW itu. “….akan datang selepas kamu satu kaum yang berterusan meninggalkan saf yang pertama…”. Mungkin kitalah kaum yang dikatakan Nabi SAW itu? Fikir dan renungkanlah.
Dalam sebuah hadis lain Nabi SAW ada mengatakan: “Hadirilah solat Jumaat, dan hampirilah imam kerana sesungguhnya seorang lelaki itu akan berterusan menjauhkan sehingga ia akan dilambatkan daripada memasuki syurga walaupun ia memasukinya.” (Hadis riwayat Imam Ahmad).
Sewajarnya pesanan Nabi SAW itu menjadi pedoman buat kita supaya tidak membiarkan diri memilih saf belakang untuk bersolat jemaah di masjid. Jangan biarkan diri kita berasa selesa dan seronok bersolat di saf belakang, sebaliknya mulalah memilih dan segera mara ke saf paling depan dan hampir dengan imam.
Oleh itu, dapatlah dikatakan bahawa solat berjemaah yang berkualiti ialah solat seseorang yang di saf paling hadapan. Inilah golongan yang didoakan malaikat dan mendapat jaminan ganjaran pahala yang besar di sisi Allah.

Monday, December 19, 2011

Suatau Penghinaan Terhadap Islam


satu penghinaan terang-terangan yang dibuat oleh musuh-musuh islam laknatullah....:


sejadah mempunyai unsur seks dan anjing

kalimah Allah ditulis pada bola

Perkataan Coca-Cola yg bermaksud
Tiada Muhammad, Tiada Mekahapabila diterbalikkan 

Poste coca-cola yang menghina masjid

Poster babi yg membaca Al-Quran dimana
badannya tertera perkataan muhammad

poster masjidl haram dilanggar kapal terbang

Satu iklan baju yang menghina islam

Salah satu restoran yang meng hina Islam 

Surah Al-Quran palsu yg direka oleh orang kafir.
Ini adalah satu daripada 4 surah palsu yang direka 

Loket yang ada perkataan Allah dan simbol Salib

Kasut Nike yang menghina Islam dengan tertulis perkataan Allah

Kasut Nike yang menghina Islam dengan tertulis perkataan Allah

Papan tanda yang ada logo arak diletakkan bersama bersama-sama

Al-Quran dikoyakkan. Satu penghinaan yang melampau

Al-Quran dikoyakkanSatu penghinaan yang melampau

Sebuah ‘Games’ yang menghina Islam
dengan kalimah Allah pada tempat rumah syaitan

Sunnah Nabi S.A.W dihina dan dipermain-mainkan

sejadah ada lambang salib

Rumah Allah dihina dengan memelihara anjing

Tayar kereta ditulis dengan perkataan Allah. Sungguh mengaibkan

Tayar kereta ditulis dengan perkataan Allah. Sungguh mengaibkan


RENUNGAN SEJENAK
Banyak lagi penghinaan yang dibuat oleh orang yahudi dan kristian terhadap agama islam sehinggakan saya sendiri tak sanggup untuk meletakannya dalam file ini.

Adakah kita harus berdiam diri diatas perbuatan mereka ini?

Sebagai umat Islam yang perihatin haruslah kita jauhkan daripada menggunakan barangan buatan mereka yang menghina ini.


Sila hantarkan fail ini kepada kawan-kawan semoga sama-sama mendapat iktibar

Tempahan Minyak Kasturi Hitam (TIAF)



Tempahan Minyak Kasturi Hitam (TIAF) P.PINANG
§   Antara khasiatnya:

§   Dalam ikhtiar mengelak / menangani sihir dan gangguan makhluk halus.
§   Menangani perihal anak yang bermasalah dari segi pembelajaran dan semangat.
§   Baik untuk pelajar, sebelum masuk kelas atau kuliah.
§   Merawat / mengelak penyakit angin ahmar.
§   Mengatasi masalah lesu dan cepat letih.
§   Dicampurkan ke dalam seberkas air dan percikkan sekeliling di dalam rumah dapat menghindari nyamuk nyata dan GHAIB, Insyallah.
§   Masalah pelupa.
§   Merawat penyakit asma.
8ml
Dan lain-lain lagi khasiat yang boleh anda rasai sendiri banyak lagi. Insyallah.

Minyak Attar Kasturi Hitam TIAF ini telah didoakan dengan:

1.                    Ruqyah Syariah
2.                    Hizib-hizib pilihan
3.                    Ayat 3
4.                    Ayat 5
5.                    Ayat 7
6.                    Ayat 33
7.                    Ayat-ayat Syifa
8.                    Ayat-ayat penerang hati
9.                    Ayat-ayat pelembut hati
10.                 Doa Nurun Nubuwah
11.                 Ayat-ayat Hifiz
12.                 Ruqyah Jibril
13.                 Gabungan 14 ayat-ayat Muqataat
Minyak ini merupakan pati asli tanpa campuran minyak lain/air. Hasil gabungan peraman buah kasturi yang menghasilkan minyak dan buntat kijang sebagai agen penyebar bau. Menurut satu riwayat bahawa, minyak kasturi hitam merupakan attar kegemaran Rasulullah SAW. Insyallah, semoga kita mendapat manfaat dari Sunnah junjungan kita.

HALAL, SUCIBERSIH boleh digunakan ketika solat.

ü  Cara Penggunaan:
ü  Bagi bayi/kanak-kanak disapukan di belakang telinga menjelang maghrib dan sebelum tidur.
ü  Bagi pesakit disapukan pada setiap sendi melintang & sedikit pada 7 anggota sujud sebelum tidur.
ü  Bagi pelajar, disapukan pada celah tangan lalu disedut harumannya sebanyak 3-7 kali sebelum masuk belajar/kuliah bagi kekuatan ingatan & kesegaran minda.
ü  Dititikkan beberapa titik (bilangan ganjil) ke dalam sebekas kecil air yang telah dipanaskan atau dijeram serta dihidu wapnya dengan nafas kiraan detik ganjil, bagi masalah migrain.
ü  Dititikkan kira-kira suku 1/4 botol ke dalam sebaldi air sejuk dan dijadikan bilasan mandi terakhir, bagi ikhtiar rawatan sihir dan gangguan jin, juga penyegar tubuh.

Kualiti Kasturi Hitam TIAF:
1. Dimasak dan diadun sendiri dalam Malaysia dengan bahan-bahan asli untuk kandungan produk.
2. Merupakan pati minyak bukannya minyak sahaja ( diuji dengan terbalikkan botol, lama          kelamaan akan meleleh )  
3. Telah didoakan dengan amalan-amalan, ayat-ayat dan doa-doa yang spesifik.
4. Pengeluaran yang terhad setiap 3 bulan dengan adab dan kaedah yang mengikut keilmuan ulama silam@tua dan ulama sufi.
Info tambahan mengenai fungsi Kasturi berdasarkan kitab-kitab:
Ø  Menguat, menenang dan meriangkan jiwa (hati)
Ø  Mencerdaskan akal dan menyihatkan otak
Ø  Menghilangkan ketakutan dan kebimbangan
Ø  Menghilangkan debaran jantung
Ø  Menghilangkan sesak nafas
Ø  Melegakan lelah (Asma)
Ø  Menyedarkan orang yang pengsan
Ø  Memperkuat organ dalaman
Ø  Menghilangkan gementar
Ø  Menghilangkan sejuk (Kasturi sifatnya panas)
Ø  Membuang angin yang berlebihan dalam tubuh
Ø  Menawarkan racun dan bisa binatang
Ø  Menjernihkan mata putih (menitiskan kastri ke dalam mata dapat menjernihkan warna putihnya serta dapat mengeringkan cair-cairan lembapnya)
Ø  Melanjutkan usia (mencium dan meminum badan dan dapat mempertahankan kemudaannya (awet muda) serta dapat memanjangkan usia, dengan izin Allah)
InsyaAllah, segalanya datang dari ALLAH. Kita hanya berikhtiar. Allahua'lam…..

Harga Sebotol: RM30 
(tidak termasuk kos penghantaran pos laju)

Dapatkan produk ini dengan menghubungi di talian:

013-4874095 (Luqman)
                                              (Pulau Pinang sahaja)                                                   
Emelkan kepada: luqman.musliman@gmail.com
Penegeluaran terhad….!!!!!